Senin, 01 September 2014

Jihad Ekonomi Islam



Assalammu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh      

            Pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab, ada seorang pemuda datang ke masjid madinah lalu berteriak meminta kepada siapapun untuk menemaninya berjihad. Umar memegang tangannya lalu berkata kepada sahabatnya yang lain : “Siapa diantara kalian yang mau memeperkerjakan pemuda ini dan memberinya upah setimpal?”. Kemudian seorang sahabat mengangkat tangannya dan menawarkan kepada pemuda itu untuk menjadi pekerja dikebunnya. Setelah itu, pemuda itu dibawa dan dipekerjakan di kebun sahabat tersebut. Setelah beberapa bulan, Umar bertanya kepada sahabat yang telah mempekerjakan pemuda itu, lalu meminta pemuda itu dengan gaji yang diperolehnya. Setelah mereka dating dan membawa uang yang lumayan banyak, Umar langsung menyuruh pemuda tersebut kembali ke rumahnya dan menjelaskan bahwa itulah bagian dari jihad.

            Jihad berarti ‘bersungguh-sungguh’. Pekerjaan yang dilakukan secara sungguh-sungguh bisa dikategorikan sebagai berjihad. Islam mengajarkan kepada kita untuk bekerja dengan sungguh-sungguh, berproduktif, dan tidak boleh bermalas-malasan. Hal ini tentu akan membawa manusia untuk meningkatkan taraf hidup dan memperoleh kehidupan yang layak. Dari mana? Tentu dari harta yang mereka peroleh sebagai upah kerja kerasnya. 

            Dalam islam, kita diajarkan untuk mencari harta agar memperoleh kehidupan yang layak sehingga kita bisa melakukan hal-hal yang diajurkan dalam islam seperti bersedekah, Infaq, zakat, membangun masjid untuk umat, dan yang sangat diajurkan sesuai rukun islam yang ke-5 yaitu beribadah haji. Dengan memiliki harta, tentu umat muslim akan terhindar dari fitnah kemiskinan dan tidak dipandang rendah oleh dunia luar. “dan aku berlindung dengan-Mu dari keburukan fitnah kekayaan dan fitnah kemiskinan…” (HR. Bukhari)

            Berati mencari harta itu penting dong?  Harta itu penting tapi harta BUKANLAH tujuan utama. Fungsi utama harta hanyalah  sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanallah wata’ala.Islam tidak mempebolehkan memanfaatkan harta secara semena-mena tapi seperlunya saja. Semua ada batasan dan aturannya.  Sedekahkan sebagian harta yang diperoleh untuk kepetingan umat. Ingat ! Pemilik harta yang hakiki hanyalah Allah subhanallah wata’ala. Kita diamanahkan sebagai khalifah untuk mengelola harta tersebut dalam menyejahterakan umat. Dengan demikian manusia penting, menerapkan ukuran Allah dalam mengelola kekayaan mereka. Selain harta, manusia juga harus dilandasi dengan ilmu. Ilmu disini lebih menekankan pada ilmu agama yaitu semata-mata untuk mencari keridhaan-Nya. Jangan sampai kita terjebak dalam konsep kapitalis yaitu hanya mementingkan diri sendiri.

            Ekonomi islam tentu berbeda sangat berbeda dengan ekonomi kapitalis dan social komunis. Ekonomi kapitalisme hanya menerapkan kepemilikan secara individu. Tujuan mereka hanyalah mencari keuntungan semaksimal mungkin tanpa melihat halal-haram dalam mencapai hal tersebut karena system ini tidak didasari oleh akhlak. Sistem ini sudah diterapkan sejak abad ke -20 dimana mereka mengekploitasi SDA secara besar-besaran, memonopoli perdagangan sehingga sulit bagi para pedagang kecil untuk masuk kedalam pasar. Kebebasan berkonomi dan persaingan bebas mengakibatkan adanya ketimpangan ekonomi dalam suatu Negara. Intinya yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. 

            Ekonomi social komunis justru berbanding terbalik dengan ekonomi kapitalisme yaitu kebersamaan. Harta yang diperoleh digunakan secara bersama-sama. Mereka tidak menganggap kepemilikan secara pribadi. Ibarat seseorang yang bekerja di kantor dan berpendidikan setinggi apapun akan menerima upah yang sama dengan buruh yang bekerja di sawah. Mereka menginginkan semua kekayaan ekonomi dibagi sama rata karena dalam system ini semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menikmati sumber-sumber ekonomi. Secara singkat, ekonomi social komunis mendambakan kemakuran bersama dalam mendorong pelaksanaan kebersamaan dalam berbagai hal. Lalu apa yang salah? Ketika seorang individu yang sudah bekerja dengan susah payah,ia tentu tidak langsung merelakan semua kekayaannya kepada Negara dengan alasan kebersamaan. Sedangkan individu lain yang serba kekurangan justru akan menjadi lemah dan malas. Mereka merasa tidak perlu berusaha kuat atau memiliki kelebihan dalam berusaha karena segigih apapun usaha mereka hasilnya sama saja.

            Maka untuk menyelesaikan masalah ini, solusinya adalah ekonomi islam. Islam tidak hanya mengajarkan soal ibadah seperti solat, puasa, membaca Al-quran dan lainnya, tapi islam juga mengajarkan bagaimana cara bertransaksi atau berdagang yang baik sesuai pada Al-Quran dan Al- hadits. Ekonomi islam dilandasi pada prinsip keseimbangan (wasathiah) yaitu dalam menjalankan kehidupan ekonominya haru dapat menyeimbangkan antara dunia dan akhirat sehingga manusia tidak terjebak dalam ekstreminitas kehidupan dunia. Ekonomi juga memiliki perpaduan antara kepemilikan secara individu dan kepemilikan bersama. 

            Tidak hanya secara ekonomi, islam juga mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. “Sebaik-baik kamu adalah orang yang tidak meninggalkan akhirat karena dunianya, dan tidak meninggalkan dunia karena akhiratnya dan tidak menjadi beban manusia” (HR. Al-Khatib Al-Baghdadi). Apapun yang dikerjakan untuk kepentingan dunia yang didasarkan pada petunjuk illahi akan menjadi perhitungan untuk kepentingan akhir kelak.

            Islam mengabarkan kepada kita supaya bekerja untuk kepentingan dunia seakan-akan kita akan hidup selamanya, dan bekerja untuk kepentingan akhirat seolah-olah  kita akan mati esok. Itulah wasiat Ali bin Abi Thalib  yang menjadi kekuatan umat muslim dalam mengatur strategi untuk berjihad melawan kekuatan liberalisme.

            Itulah beberapa catatan yang saya dapat, bersumber dari buku Jihad Ekonomi Islam oleh Jafril Khalil Ph.D. Semoga catatan ini dapat bermanfaat bagi anda. Terima kasih :)

Wassalammu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar